PENGANEKARAGAMAN PRODUK
Rimpang temulawak sebagian besar digunakan untuk bahan baku obat, produknya berupa minyak temulawak, oleoresin, pati, instant, zat warna kuning, beberapa jenis makanan, minuman, dan minyak atsiri.
USAHATANI
Untuk memperoleh hasil yang optimum dengan usahatani yang menguntungkan, faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam teknologi budidaya perlu diperhitungkan. Berikut analisis usahatani temulawak
dengan teknologi budidaya anjuran Balittro.
Ratio biaya dengan pendapatan atau benefit cost ratio (B/C)
B/C merupakan salah satu cara untuk mengukur kelayakan usaha temulawak. B/C merupkan pembanding antara hasil penjualan dengan total pengeluaran biaya produksi, B/C usahatani temulawak = 1,52.
Titik balik modal atau break even point (BEP)
Titik balik modal adalah suatu kondisi saat investasi tidak mengalami kerugian dan tidak mndapatkan keuntungan atau disebuit juga titik inpas. Titik inpas ada dua yaitu titik inpas produksi dan titik
inpas harga. Titik inpas (BEP) produksi diperoleh dari total pengeluaran dibagi harga per-1 kg temulawak saat itu, berarti pada jumlah produksi tertentu usahatani temulawak berada pada titik inpas. Sedangkan BEP harga diperoleh dari total pengeluaran dibagi total produksi rimpang temulawak, berarti pada harga yang diperoleh usaha tidak merugi dan tidak beruntung. BEP produksi usahatani temulawak = 14.768 kg rimpang segar. BEP harga usahatani temulawak = Rp. 985,-/kg rimpang segar.
Efisiensi penggunaan modal atau return of investment (ROI)
Perhitungan nilai keuntungan usahatani temulawak yang dikaitkan dengan modal yang telah dikeluarkan. ROI diperoleh dari hasil bagi antara penjualan dengan biaya produksi dikalikan 100%, ROI usahatani temulawak adalah 152,40%.